|
|
Jakarta (ANTARA News) - Maskapai
penerbangan swasta, Kartika Airlines menginformasikan mulai
15 Juni 2005 telah mengudara lagi di jalur penerbangan
berbasis layanan penuh (full service) dan segmen pasar kelas
menengah ke atas, menyusul perkiraan membaiknya bisnis
penerbangan domestik akhir-akhir ini.
"Penerbangan domestik dalam 2-3 tahun ke depan, petanya akan
berubah drastis karena adanya para pelaku pasar di sektor
ini makin efisien dan profesional. Itulah yang membuat kami,
bertekad hadir kembali, meski harga avtur sedang
gonjang-ganjing," kata President Director PT Kartika
Airlines, Odang Kariana, di Jakarta, Kamis.
Dijelaskannya, Kartika Airlines dengan manajemen lama dan
pemilik saham Yayasan Kartika Eka Paksi, salah satu yayasan
di lingkungan TNI dan PT Tri Usaha Abadi, menjalani
penerbangan terakhir sekitar November 2004.
Odang mengatakan, Kartika yang sekarang berada di bawah
manajamen baru, setelah PT Intra Asia Corpora mengambil alih
kepemilikan sahamnya sebesar 80 persen sejak Maret 2005,
sedangkan sisanya masih dikuasai oleh Yayasan Kartika Eka
Paksi.
"Jadi, semuanya baru kecuali Sertifikat Kelaikan Operasi
(Air Operator Certificate) dan ijin pengembangan pesawat
hingga lima pesawat jenis B-737-200 sampai akhir tahun ini,"
kata Odang.
Dikatakan, pada tahap awal Kartika dengan tiga pesawat
B-737-200, dua di antaranya sudah beroperasi dan sudah
menerbangi rute-rute Jakarta-Balikpapan PP, Jakarta-Batam PP
dan Jakarta-Surabaya-Denpasar PP, sedang satu pesawat lagi
masih dalam proses ijin rute di Departemen Perhubungan.
Hingga akhir 2005, tegasnya, pihaknya bersiap menambah
armada sejenis hingga lima unit dan baru pada 2006
direncanakan akan melakukan diversifikasi pesawat dan
menambahnya hingga 18 unit pesawat.
"Jadi, selain Boeing series tipe lainnya karena B-737-200
memang cukup boros avtur, tidak menutup kemungkinan Airbus,"
katanya.
Selain itu, Odang menyebutkan, sejak beroperasi 15 Juni
2005, tren tingkat isian penumpang sudah mendekati 50 persen.
Karena itu, Kartika dengan manajemen baru dan hanya
menampung 200 karyawan hingga saat ini, dia memperkirakan
tingkat isian penumpang rata-rata 70-75 persen saja, sudah
mencapai titik impas.
Layanan penuh
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Kartika Airlines, Eko
Budi Gunarto menjelaskan, segmen penumpang yang dibidik
maskapai ini adalah kelas menengah ke atas, meski tidak
membatasi pada kelas menengah ke bawah untuk menikmatinya.
"Dengan harga jual tiket di atas rata-rata maskapai lain
yang memposisikan dirinya `low fare` (tarif murah), jelas
pangsa pasar kami sedikit beda. Sehingga wajar bila strategi
layanan kepada penumpang Kartika, `full service` (layanan
penuh). Jadi, kami siap `head to head` (berhadap-hadapan
langsung di pasar) dengan Garuda atau maskapai lain seperti
Mandala Airlines," katanya.
Dicontohkannya, jika terbang bersama Kartika, meski jarak
tempuhnya hanya satu jam perjalanan, maka ketika sampai
waktu makan baik pagi maupun siang, dijamin mendapatkan
pelayanan penuh makan dan minum. "Jadi, di pagi hari jika
terbang dengan Kartika, pasti ada `breakfast` (sarapan pagi),"
tukasnya.
Eko juga menjelaskan, meski biaya tetap seperti avtur dan
pemeliharaan mencapai 55-60 persen terhadap total biaya
operasi, komponen biaya tetap lainya masih relatif efisien
karena perusahaan baru. "Karena itu, kami optimis mampu
meraih pangsa pasar tersendiri," katanya.
Kartika juga menjual tiket penerbangan dengan tiga kelas,
yakni kelas bisnis, ekonomi deluxe dan kelas ekonomi biasa
dan mulai Juli 2005 akan menggelar promosi dengan harga jual
tiket kompetitif.(*)
|